Munggahan 1446 di Labuan
Tradisi yang seolah-olah harus dilakukan. Bacakan. Munggahan. Makan bareng-bareng semua kru yang hadir.
Waktu menunjukan jam 12.00 wib tapi belum waktunya sholat duhur. Bersila dideretan daun pertama di samping ustad Uje, sepintas beberapa potong daging rendang sudah diamankan posisinya. Disusul oleh pa Dadang di sisi kiri. Datang pa Toto yang melangkahi lebar daun dari sela kanan pa Dadang dan sisi kiriku. Menyusul pa Azka dari sisi kanan Uje sehingga posisinya jadi berhadapan. Di sebelah kanan membelakangi pintu deretan ustad Uje, aku ,pa Dadang dan pa Dase. Berhadapan dengan barisan pa Azka, pa Toto dan nDes juga pa Tri.
Hidangan cukup banyak jenisnya, mulai dari bakar ikan laut, rendang, bakar ayam, pepes ikan, urapan, tempe goreng, ikan asin ongong kering ditambah sambel honje, sambel terasi dan lalapan timun. Tidak ketinggalan semangkuk sayur asem sedikit keasinan dan kurang asem. (kata pa Dase)
Di depanku masih ada sepotong daging rendang yang coba ku colek ditambahkan urapan sayur dan sepotong ikan asin, juga sepotong ayam bakar berbau asap dan kurang bumbu. Untuk saat ini ikan bakar dihadapanku hanya ku geser tanpa secuilpun utuh ku sebrangkan ke pa Azka untuk dinikmati, karena ada penggantinya berupa sepotong pepes tenggiri walaupun bagian potongan ekor. Nikmat.
Datangnya nDes di sampingnya pa Toto menghentikanku mencolek daging rendang yang baru secuil disuap dan ganti menyerahkannya ke nDes yang sama sekali tidak makan daging ikan. Di depanku pa Toto lahap menikmati urapan dengan ongong goreng.
Posisi cukup tertib, tertata. semua posisi hidangan merata, semua kebagian. Idenya pa Yafid bercermin waktu bacakan di ruang vokasional saat usai kegiatan IHT.
Cukup banyak juga yang masuk ke lambung ini, sehinga terasa kenyang. Memang waktunya makan siang ditambah ternyata belum sarapan pagi juga.
Komentar
Posting Komentar